Khalid Wahyudin

Khalid Wahyudin hanya seorang guru sekolah gunung yang tengah berpacu dengan asa terindahnya. Sejak 2009 hingga kini, saat amanah sebagai abdi negara diterima...

Selengkapnya
Masih Ada Waktu untuk Ketemu

Masih Ada Waktu untuk Ketemu

Sudah lebih sepuluh tahun kita tak bertemu. Sudah lama sekali. Banyak sudah yang berubah. Dari yang dulu bagai selembar papan, kini berisi dan terlihat mapan. Yang dulu rambut terlihat begitu lebat, kini sebagian rambut lebat itu telah minggat. Dulu berpakaian apa adanya dan serampangan, sekarang agak berwibawa dengan perut sedikit ke depan dan pakaian bak juragan.

Beberapa waktu lalu mendadak saja, teman-teman lama menggagas untuk bersua-muka. Reuni kecil-kecilan kata mereka. Waktu pun telah ditentukan. Kita semua pun setuju. Kita mantap bertemu di rumah salah seorang teman, di Kediri, Minggu lalu (6/1/2019). Oh, Minggu. Aku pun tak ragu mengagendakan waktu.

Mengingat mereka seperti terbayang kembali kenangan 20 tahun lalu. Saat bersama di jurusan Seni Rupa tempo itu. Aku membayangkan wajah bersahabat mereka. Senyum tulus yang selalu terukir saat bertemu. Wajah nDeso yang bersahaja dan meneduhkan, wajah yang lekat dengan persahabatan.

Teringat selalu saat harus mengerjakan tugas lukis bersama. Bermalam dan begadang untuk menyelamatkan diri dari siksaan ujian. Ingat sekali, saat air cucian minyak lukis disangka kopi hitam yang manis. Byuh…baru tersadar saat air sudah sampai di tenggorokan. Ah, salah ambil. Ternyata secangkir kopi hitam masih setia di tempatnya. Dan, sumpah serapah pun tak berguna. Berganti gelak tawa yang akhirnya pecah menggetarkan seisi kamar malam itu.

Teringat juga, saat makan seadanya. Pinjam meminjam adalah hal biasa. Siapa yang punya rizki, ia yang harus berbagi. Kita lebih dari sekedar teman. Kita sudah seperti saudara. Mungkin, karena kita menyadari sebagai anak kuliahan yang serba kekurangan. Beruntung sekali, sedikit keahlian sebagai perupa muda cukup membantu menyelamatkan kita dari kebingungan saat kehabisan uang bulanan.

Saat tiba membayar semesteran, kita pun saling bersedih hati. Sama-sama mengeluh tak punya uang untuk itu. Kita pun bersama-sama mengajukan surat keringanan pembayaran. Atau, penundaan pembayaran beberapa bulan lagi. Alasan pun hampir sama, tak ada kiriman dari rumah.

Bayangan masa lalu itu, seperti sinema di depan mata. Sambil mengendarai motor, fragmen-fragmen kenangan itu kembali membayang. Kenangan itu seperti tumpukan buku cerita saja. Sebagian kisah dan ceritanya hanyut dalam aliran deras kehidupan kita. Hingga, kita tak mampu lagi merangkainya. Tak mampu lagi memadukan setiap kepingannya yang terpisah. Namun, yang pasti kita tahu. Kita pernah berjuang bersama melewati tak hanya hitam putih, tapi beragam warna pernah kita tuangkan dalam canvas kehidupan. Kita pun seperti menyatu dengan warna-warna itu.

Namun, bayangan itu tiba-tiba hilang. Begitu cepat, tak dapat ku ingat. Yang aku tahu, aku telah terjatuh. Baru ku sadari lagi, saat aku duduk bersandar di tepian jalan. Ah, kecelakaan motor itu membuyarkan segalanya. Oh, sungguh reuniku yang malang. Mungkin waktu belum menghendaki kita bertemu.

Kucoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Perlahan kisahnya pun tergambar. Aku memacu motorku, tanpa kusadari Bapak tukang becak, usianya sekitar setengah abad, mengayuh becak dengan santainya di perempatan jalan. Masuk saja secara tiba-tiba, seakan jalan adalah miliknya. Aku yang tergesa-gesa tak cepat melihatnya. Aku gagap, mendadak menekan tuas rem kanan dan kiri bersamaan. Setir aku arahkan ke kiri agar tak bertabrakan. Tukang becak itu selamat. Aku tidak. Aku terpelanting jatuh dan terseret beberapa meter di jalan.

Aku masih bisa berdiri, ketika itu. Sementara darah segar mengucur dari arah dalam mulut. Ah, bibir dalam bagian atas ternyata robek. Sementara, pelipis tergores meski tak dalam namun terus mengucurkan darah.

Aku seperti baru tersadar. Aku jatuh, “Ya Allah Aku jatuh,” kataku membatin. Sambil berusaha untuk berdiri. Terasa pening dan pusing. Helm tak pecah, tak apa-apa. Pandangan terasa kabur. Kaca mataku, entahlah kemana. Sesaat kemudian, aku menyadari orang-orang menuntunku ke tepian jalan.

Sigap, orang-orang itu membantuku. Ada yang langsung memanggil ambulans. Ada yang berusaha membantu memanggil orang terdekatku, keluargaku. Namun, tak tersambung. Ada yang berusaha menenangkanku. Segelas air putih ia sodorkan. Aku menerimanya dengan tangan kanan yang sedikit gemetar. Aku meminum air itu sampai habis. Alhamdulillah, air itu membuatku sedikit tenang.

“Ya Allah bantulah mereka yang dengan tulus membantuku,” doaku dalam diam saat itu.

Tak lama berselang, ambulans pun datang membawaku ke rumah sakit. Video call istriku ku terima. Ia kaget dan bertanya-tanya. Aku menjawab singkat ketika itu, aku kecelakaan. Ia pun bergegas menyusulku ke rumah sakit. Alhamdulillah, karena tak dianggap terlalu parah dan berbahaya, pihak rumah sakit membolehkan aku dirawat di rumah.

Kini, setelah beberapa hari, wajah masih belum utuh sempurna. Luka di tangan masih belum kering. Pelupuk mata masih terlihat bengkak dan legam, namun mata bisa terbuka. Bibir atas masih terlihat jontor, namun mulut bisa menganga hingga tak sulit memasukkan makanan ataupun minuman.

Ku buka WAG, ucapan dan doa kesembuhan mengalir dari para sahabat yang tahu akan kejadian itu. Ternyata, ketika di rumah sakit, mungkin karena cemas, istriku mengirimkan pemberitahuan dan meminta doa atas kesembuhanku kepada teman dan karib kerabat. Aku pun membalas dengan mengucapkan banyak terima kasih atas empati dan untaian doa setulus hati itu. Lalu, seorang teman menghubungiku lewat WA, membesarkan hatiku.

“Sabar, Kawan. Masih ada waktu untuk ketemu. Lain kali, kita bisa reuni lagi,” katanya berempati. Insyaallah, dan aku pun berharap itu akan terjadi nanti. Terima kasih, Kawan. (*)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Syafakallah, Akh Wahyudin. Ternyata sejenak menghilang dari gurusiana karena ada cobaan mendera. Terkadang Allah berikan sesuatu yang sangat berharga meski kita tak suka, ujian salah satunya. Semoga kecelakaan kemarin dan sakit yang ditimbulkannya menjadi hikmah berharga bagi kita semua. Alhamdulillah, telah bisa kembali dalam rumah besar gurusiana. Mugi enggal dangan. Reuni yang telah direncanakan harus buyar karena kecelakaan, tetapi jembatan persahabatan dan ikatan hati di antara kawan lama tak akan pernah memudar. Syafakallah.

11 Jan
Balas

Amin Ya Mujibas Sailin. Jazakillah khairan, Bu Sri Ayu Sipah.

11 Jan

Lekas sembuh ya Pak..pantesan kemarin tak tanyain lho..koq ga nongol-nongol..ternyata oh ternyata. Belum waktunya untuk reunian, masih ada waktu lain. Pak Khalid dari seni rupa ya? gambar dan tulisannya keren-keren...mantaap...segera sehat, bisa beraktivitas kembali dan Barakallah

11 Jan
Balas

Terima kasih, Bu Marlupi. Sukses selalu. Barakallah.

11 Jan

Syafakallah, semoga Pak Guru segera pulih kembali. Saya kehilangan tulisan dengan cover yang membuat hati saya jatuh. Membaca tulisan ini, saya bergumam: "Pantesan..., rupanya Pak Guru jurusan Seni Rupa". Saya sempat tanya ke anak-anak tentang cover tulisan Pak Guru yang selalu "aduhai". Saya juga ingin bisa seperti itu ( Aduuuh...ini eyang uthi ada-ada aja), gimana ya cara membuatnya? Masih ada waktu untuk bisa reuni lagi. Sekarang, yang paling penting kesehatan Pak Guru. Merinding saya membacanya, ingat kecelakaan yang saya alami 5 bulan yang lalu. Hingga kini retak di kaki saya belum pulih, masih berobat jalan. Gurusiana jadi teman setia ketika saya hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Sekali lagi, syafakallah Pak Guru. La ba'sa thohurun. Barakallah.

11 Jan
Balas

Terima kasih Bunda Raihana Rasyid. Jazakillah khair wa barakallah.

11 Jan

Bapak hanya mengucapkan Allahummasyfihi wa'afihi. A amiin

11 Jan
Balas

Amin Ya Robbal Alamin. Barakallahu laka wa ahlaka, Aby.

11 Jan

semangat terus Kangkhalid

12 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali